Penyebab Sepeda Motor Turun Mesin
19 Januari 2026
Admin
Bagikan
Sebelum motor benar-benar perlu perbaikan mesin, biasanya muncul gejala seperti asap putih pekat, suara mesin kasar, tenaga menurun drastis, oli cepat habis tanpa bocor, overheating berulang, hingga motor susah hidup.
Berikut beberapa penyebab sepeda motor turun mesin yang paling umum:
1. Telat Ganti Oli Mesin
Oli berfungsi sebagai pelumas, pendingin, sekaligus “pembersih” partikel kotoran dan serpihan logam dari gesekan komponen mesin. Masalahnya, kualitas oli akan menurun seiring waktu karena terpapar panas dan tercampur residu pembakaran.
Jika terlambat diganti, oli menjadi lebih kental dan kemampuan melumasi menurun. Akibatnya komponen seperti piston dan bearing bekerja dengan gesekan tinggi untuk menyesuaikan keadaan oli tersebut.
Dalam kondisi ekstrem, gesekan logam bisa menyebabkan piston macet, ring piston patah, dan dinding silinder baret. Inilah salah satu jalur paling cepat yang membuat motor berujung turun mesin.
Untuk itu, disarankan adanya penggantian oli motor (terutama matic) di kisaran 2.000–3.000 km atau menyesuaikan rekomendasi pabrikan.
Beberapa tips pencegahannya antara lain:
- Gunakan oli sesuai spesifikasi pabrikan. Jangan tergiur harga murah, padahal tidak sesuai spesifikasi.
- Periksa level oli secara rutin, terutama jika motor digunakan setiap hari.
- Jika sering macet/stop-and-go, interval ganti oli sebaiknya lebih cepat.
2. Jarang Servis Berkala
Baca Juga : Bukan Hanya Terang Saja, Ini Kelebihan Lampu LED Motor
Turun pada mesin sering terjadi bukan karena satu masalah besar, melainkan akumulasi dari masalah kecil yang dibiarkan.
Servis rutin bukan hanya ganti oli, tapi juga mencakup pengecekan filter udara, busi, sistem injeksi/karburator, celah klep, hingga kondisi CVT pada motor matic.
Misalnya, filter udara yang kotor membuat campuran udara-bahan bakar tidak ideal, pembakaran jadi tidak sempurna, dan terbentuk endapan kerak.
Lama-kelamaan, mesin bekerja lebih berat, panas meningkat, komponen cepat aus, dan risiko turun mesin ikut naik.
Untuk mencegahnya, Anda bisa mengikuti jadwal servis berkala (misalnya tiap 2.000–4.000 km atau sesuai buku servis). Kemudian, jangan menunggu sampai muncul gejala parah baru motor dibawa ke bengkel.
3. Sering Menerjang Banjir (Risiko Water Hammer/Hydrolock)
Kebiasaan menerobos banjir adalah salah satu penyebab serius motor turun mesin, terutama bila air sampai masuk ke ruang bakar. Ketika air terhisap melalui intake dan masuk ke silinder, piston bisa “terhenti paksa” karena air tidak bisa dikompresi.